Sabtu, 26 Juni 2010

terima kasih putri

25 Juni 2010.

ada malam, dengan gangguan gemuruh anak-anak di kamarku yang tadinya selalu tenang. ada pertandingan sepakbola yang menjadi budaya laten di negeriku, bukan timnas tapi negara lain yang bisa disaksikan melalui layar kaca. aku tidak peduli dengan timnasku sendiri. ia telah menjadi bubur tanpa kecap, cuma sambal yang membikinnya pedas. dan sorak sorai suara bocah mengawali hari ulangtahunku ini.

pagi tiba dengan sedikit kemayu, ia pelit sekali membagi mentarinya. ia tersingkap dengan malunya, gerimis pun mengundang tanya, apakah ini tangis atau duka? kemudian ia muncul perlahan diluar sana, ia bernyanyi sepertinya, dan hariku itu seperti tidak biasa.

kamu datang, dengan sedikit kebohongan untuk kesenanganku. kamu mengetuk pintu kamarku, aku berselimut, dingin sekali. kamu masuk dan aku tahu, kamu teringat akan hari lahirku. dengan jinjingan di tangan kananmu, kamu tersenyum dan menghampiriku di tempat tidur. aku bangun, dan kamu mengeluarkan isi tas mu. sebuah kue ulang tahun yang kecil. aku ingin menangis, inikah namanya ulang tahun yang selama ini aku tidak pedulikan? inikah ulang tahun bersama orang-orang tersayang?

dua buah batang lilin kecil kamu tancapkan, kemudian aku menyulut apinya. kamu memegang kue itu dengan seksama di depanku, tanpa perlu diminta, aku membuat doa. semua pengharapanku untuk bersamamu, semua pengharapanku untuk kehidupanku jauh dari kesedihan, semua pengharapanku untuk selalu bisa menerima, semua pengharapanku untuk tidak menangis manja di depanmu atau di depan tuhan.

juga, semua pengharapanku untuk dirimu selalu bersamaku. tapi apa daya, dalam diam perenunganku, kembali airmata tak terbendung. sensitif sekali. ingin sekali aku meminta maaf untuk sikap burukku, yaitu menangis sahaja. aku lemah di depanmu, dan akan selalu begitu sejak kedatangan orang lain dalam dirimu yang aku lihat. karena aku tidak buta, karena aku selalu mengritik segala permainan hati yang dijadikan lelucon.

kamu memotret diriku yang memegang kue dengan lilin yang meleleh dilalap api. aku menangis dan kamu bertanya, dan doaku seperti baru sekali menjadi manusia. aku bisa menangis karena kamu yang datang disaat aku tidak pernah sama berharap banyak. aku pikir, ulang tahun itu adalah sebuah hari yang biasa, ketika aku lelah untuk memikirkan masa lalu dan malas untuk memikirkan masa depan. aku begitu saja ingin melewati hari yang mungkin spesial di mata orang lain.

aku mengelap tetes airmataku, dan aku lihat senyum mu yang menenangkan. seperti air di kolam yang hanya ada talas dan katak yang bernyanyi. merdu sekali. senyum dari gigi calingmu yang selalu aku rindu, dan selalu aku minta itu untuk diriku, bukan bob atau siapapun nanti.

setelah itu, beberapa buah tangan kamu keluarkan, dengan pejaman mata, perlahan-lahan aku buka, ada sketsa wajahku, ada buku sebagai kesenanganku. terima kasih putri. hari itu lengkap dengan hariku yang ditemani dirimu, senja yang menguning dan purnama sebagai ibu seribu malam. terima kasih putri, terima kasih banyak untuk saat ini dan nanti. aku sayang kamu dengan ribuan praduga yang aku takutkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar